Matan & sanad
Matan
Dari Umar bin Khattab berkata[1]:Hadits ini juga diriwayatkan dari Abu Hurairah yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam kitab hadits shahihnya, Shahih Bukhari, 1:2:48. Tersedia pula di Lidwa, Dengan redaksi di akhir hadits yang berbunyi[2]:“Tatkala kami tengah duduk-duduk di sisi Rasulullah, lalu datanglah seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Hingga dia mendatangi Nabi
lalu menyandarkan lututnya pada lutut beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya pada paha beliau,
Kemudian setelah itu dia beranjak pergi, dan aku tidak bertanya kepada Nabi tentang itu selama beberapa saat. Tidak berselang lama kemudian beliau bersabda, “Wahai Umar, apakah kamu tahu siapa penanya tersebut?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Itu tadi adalah Jibril, dia mendatangi kalian untuk mengajarkan kepada kalian tentang agama kalian.”
- Kemudian dia bertanya, “Wahai Muhammad, kabarkanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah
menjawab, “Kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan puasa Ramadhan, serta haji ke Baitullah jika kamu mampu bepergian kepadanya.” Dia berkata, “Kamu benar,” Umar berkata, “Maka kami kaget terhadapnya, karena dia yang bertanya tapi dia juga yang membenarkannya.”
- Dia bertanya lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman?” Beliau menjawab, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan kamu beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk,” dia berkata, “Kamu benar.”
- Dia bertanya, “Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan?” Beliau menjawab, “Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak melihat-Nya maka yakinlah sesungguhnya Dia melihatmu.”
- Dia bertanya lagi, “Kabarkan kepadaku kapan hari (kiamat) itu?” Beliau menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya itu (saya) lebih mengetahui daripada orang yang bertanya (kamu).” Dia bertanya, “Kalau begitu kabarkanlah kepadaku tentang tanda-tandanya?” Beliau menjawab, “Apabila seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan kamu melihat orang yang tidak beralas kaki, telanjang, miskin, penggembala kambing, namun bermegah-megahan dalam membangun bangunan.”
— HR. Muslim no.8
“...hari Kiamat termasuk dalam lima perkara yang tidak diketahui kecuali oleh Allah.” Kemudian dia pergi, lalu Nabi bersabda, ”Panggil dia kembali!” Tetapi orang-orang tidak menemukannya. Beliau kemudian bersabda, ”Dia adalah Jibril, datang kemari untuk mengajari manusia tentang agamanya". Abu Abdullah berkata: Beliau (Nabi) menyatakan semua hal tersebut merupakan bagian dari keyakinan.”— HR. Al-Bukhari, no. 50
Sanad
Menurut Bukhari, ia menerima hadits ini dari Musaddad bin Musrihad, tabiin yang juga seorang guru dan "koresponden" bagi 2 periwayat hadits, yakni Bukhari sendiri dan Abu Daud. Musaddan mendengar cerita dari Ismail bin Ibrahim, dari Yahya bin Sa'id bin Hayyan -yang memiliki nama kuniyah Abu Hayyan-, dari Abu Zur'ah bin Jarir bin Abdurrahman bin Shakhr. Kesemua sanad Bukhari ini lumayan shahih/tsiqah.[3]Sedangkan dari Imam Muslim, dia menerima hadits dari 3 sanad, yang pertama Abu Bakar bin Abu Syaibah,[4] Zuhair bin Harb bin Syaddad, dari Ismail bin Ibrahim dan seterusnya seperti sanad dari Bukhari. Juga yang terakhir, Muhammad bin Abdullah bin Numair, dari Muhammad bin Bisyir bin Al-Furafashah yang mendengar dari Yahya bin Sa'id bin Hayyan,[5] dari Abu Zur'ah dan seterusnya mirip dengan sanad Bukhari.[6]
Konteks keimanan
Iman, Islam, dan Ihsan diakui sebagai perbendaharaan kunci dalam pola keberagaman Islam. Pada awalnya, konsep keimanan tersebut didasarkan pada sebuah hadits terkenal di atas yang dikenal sebagai Hadits Jibril. Hadits ini memberi ide kepada kaum Sunni perihal adanya 6 rukun iman, lima rukun Islam dan satu ajaran tentang penghayatan terhadap Allah Azza Wa Jalla. Akan tetapi, dalam dimensi terdalam iman tidak cukup hanya dengan percaya atau mempercayai sesuatu yang belaka, tapi ia juga perlu perwujudan/eksternalisasi dalam pola perilakunya. Dalam hal ini, Nabi Muhammad SAW menyabdakan bahwa iman memiliki lebih dari tujuhpuluh tingkat sedari ucapan tahlil sampai menyingkirkan batu dari jalanan.[7]Imam Nawawi berkata: "Dan ketahuilah bahwasanya hadits ini mengumpulkan berbagai macam ilmu, pengetahuan-pengetahuan, adab-adab, dan hikmah-hikmah yang lembut. Bahkan hadits ini adalah pokoknya Islam."[8]
Dinukilkan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari bahwa Imam Qurthubi berkata: " Hadits ini tepat untuk dikatakan sebagai induknya sunnah, karena perkara-perkara yang terkandung didalamnya dari berbagai ilmu sunnah."[9]
Dalam Syarah Arbain, Ibnu Daqiqil Ied berkata:"Hadits ini seperti induknya sunnah. Sebagaimana Al-Fatihah disebut sebagai induknya Al-Qur'an karena kandungannya yang telah mengumpulkan makna-makna Al-Qur'an."[10]
Ibnu Rajab berkata: "Ini adalah hadits agung yang mengandung keterangan (tentang) seluruh agama ini, oleh sebab itulah Nabi Shalallahu alaihi wa salam berkata di akhir hadits: "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan kalian (tentang) agama kalian.", setelah menjelaskan tingkatan Islam, Iman, dan Ihsan dan menjadikan semuanya itu adalah (bagian dari) agama."[11]
Kandungan hadits Jibril
Faedah yang dapat disimpulkan dari hadits Jibril diatas, adalah[12]:- Terdapat 5 Rukun Islam dan 6 Rukun Iman dalam agama Islam
- Islam, Iman dan Ihsan merupakan suatu tingkatan, yang paling bawah adalah Islam kemudian Iman dan tingkatan tertinggi adalah Ihsan. Sehingga orang yang berihsan (Muhsin) adalah seorang yang beriman (Mukmin) dan berislam (Muslim), sedangkan seorang Mukmin adalah Muslim namun belum tentu Muhsin, dan seorang Muslim belumlah dianggap Mukmin dan Muhsin hingga memenuhi syaratnya. Sebagaimana firman Allah: "Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah ´kami telah tunduk (berislam)´, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu;..." [13]
- Malaikat Jibril bertanya dalam rangka mengajari para sahabat Nabi tentang agama, karena sebenarnya Jibril telah mengetahui jawabannya bahkan mengakui benarnya jawaban Nabi. Jibril membiarkan Nabi untuk menerangkan jawabannya dihadapan para sahabatnya.
- "Tidaklah orang yang ditanya itu lebih mengetahui daripada orang yang bertanya" merupakan ungkapan yang menunjukan bahwa tidak ada makhluk yang mengetahui kapan terjadinya kiamat kecuali Allah saja, bahkan baik Nabi Muhammad maupun Malaikat Jibril juga tidak mengetahui kapan waktu terjadinya kiamat, kecuali hanya mengetahui tanda-tanda datangnya saja. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya hanya disisi Allah ilmu tentang hari kiamat,..." [14] dan "Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit. Katakanlah: "Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah". Dan tahukah kamu (hai Muhammad), boleh jadi hari berbangkit itu sudah dekat waktunya." [15]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar