Rabu, 30 Maret 2016

7 Tips Berkesan Melupakan Orang Yang Kita Sayang

naizeremo.blogspot.com
Sha sha sha.......
Melupakan seseorang yang kita sayang bukanlah mudah. Kadangkala hati kuat untuk melangkah pergi, kadangkala hati kita ingin terus hidup dalam kenangan.
Cinta. Bukan mudah melupakan orang yang kita cintai. Tapi kehidupan perlu diteruskan.
Ya, bercakap memang mudah. Tapi tak mustahil kan?
Saya juga seperti anda. Saya pernah mengalami cinta terputus di tengah jalan. Atas sebab tertentu, terpaksa berpisah. Lebih perit bila cinta tidak direstui.
Bukan mudah untuk membuat keputusan kerana kedua-duanya amat saya sayangi. Kehidupan amat perit saya rasakan. Ketika ingin melupakan, ada sahaja kenangan yang menggamit di jiwa.
Terdengar lagu itu, saya teringat dia. Terlihat tempat makan itu, teringat si dia. Aduh,perit sangat bila terpaksa melupakan orang yang kita sayang.
Tapi, saya terfikir sampai bila saya harus begini?
Saya berdoa padaNYA agar diberikan petunjuk. Ketika rindu padanya, saya mengadu pada DIA. Bukan mudah untuk memulihkan hati.
Suatu hari, saya bermuhasabah diri. Menempatkan diri saya pada diri orang lain.
Pada mulanya, saya tempatkan diri saya pada diri kedua ibu bapa saya. Mereka hanya inginkan yang terbaik. Memang sudah menjadi lumrah, ibu bapa inginkan yang terbaik buat anak-anaknya.
Walaupun saya terluka dengan keputusan ibu bapa saya, saya menerima dengan redha kerana redha Allah terletak pada redha kedua ibu bapa. Oleh itu, saya tidak mahu perhubungan saya tidak direstui oleh ibu bapa saya.
Kemudian, saya tempatkan diri saya pada dirinya. Saya faham dia tidak mahu saya tersepit untuk membuat keputusan. Dia tahu bukan mudah untuk saya membuat pilihan kerana kedua-duanya amat saya sayangi. Jadi,dia memilih untuk pergi supaya saya tidak derhaka kepada kedua ibu bapa saya.
Kemudian,saya berfikir pula bagi pihak diri saya. Mungkin saya terleka dengan nikmat cinta yang diberikan Allah, sayang saya padanya melebihi sayang saya kepada Allah.
Sebelum saya terus terleka dengan cinta, Allah menarik balik nikmat itu. Mungkin juga sekarang belum masa yang sesuai untuk saya bercinta. Insyaallah ,jika benar dia jodoh saya, satu hari nanti kami akan dipertemukan semula di waktu yang sesuai. Saya yakin Allah akan memberikan yang terbaik buat saya.
Oleh itu, bangkitlah kawan-kawan. Hilangnya cinta manusia bukan bermakna kita putus harapan untuk hidup. Pandanglah ia dari sudut positif. Kita pasti dapat menempuhi keperitan ini dengan baik.

 Beberapa Cara yang Saya Lakukan Semasa untuk Melupakan Orang Tersebut

1. Mohon kekuatan daripada Allah

Tips melupakan orang yang kita sayang ialah memohon kekuatan daripada Allah swt dalam menjalani kehidupan mendatang. Mohonlah Allah tunjukkan hikmah di sebalik perpisahan itu.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu sedangkan ia baik untukmu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu sedangkan ia buruk untukmu. Allah maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.”
[2:216]

2. Perbanyakkan solat sunat dan bacalah Al-Quran

 “…..hanya dengan mengingati Allah hati akan tenang.” [Surah Ar-Rad:Ayat 8]
Hati yang terluka perlukan ubat. Mintalah Allah ubatnya kerana Allah pemilik setiap hati manusia. Ingatilah Allah kerana dengan mengingati Allah, hati kita akan menjadi tenang.

3. Terimalah kenyataan

Perkara paling penting ialah diri kita perlu menerima kenyataan. Terimalah kenyataan bahawa perpisahan sudah terjadi dan masing-masing sudah mempunyai haluan sendiri.
Sentiasa ingatkan diri bahawa dia bukanlah yang terbaik untuk kita dan yakinlah kita akan menemui insan yang lebih baik. Percayalah pada ketentuan jodoh. Jika dia memang tercipta untuk kita, dia pasti kembali kan?
Redhalah dengan ketentuanNYA.

4. Buang segala perkara tentang dia

Perkara ini memang perit untuk dilakukan tetapi inilah cara terbaik untuk melupakan seseorang yang kita sayang.
Buanglah segala perkara tentang dia. Buang nombor telefonnya, block Facebook dan apa sahaja medium yang membolehkan anda berhubung dengannya.
Jika sayang untuk membuat hadiah pemberiannya, simpanlah di dalam satu kotak dan sorokkannya di tempat yang jauh dari pandangan anda.
Kuatkan diri anda supaya tidak menghubunginya.

5. Sibukkan diri

Sibukkan diri anda dengan kerja dan kawan-kawan. Luangkanlah masa dengan perkara yang anda minati. Jangan biarkan diri anda bersendirian kerana anda akan merasa sunyi lalu mengingati kenangan-kenangan lalu.

6. Hindari semua perkara tentang dia

Cuba hindarkan semua perkara yang mengingatkan kita pada si dia . Contohnya, jangan pergi ke tempat makan yang selalu kita pergi bersama si dia. Jangan dengar lagu yang berkaitan dengan si dia. Kalau terdengar,cepat-cepatlah tutup radio tu.

7. Ceritakan masalah kepada orang yang dipercayai

Ceritakanlah masalah anda ini kepada orang yang anda percayai. Mintalah nasihat daripadanya dan mintalah sokongan daripada rakan-rakan anda supaya membantu anda keluar daripada masalah ini.
Terakhir sekali,bantulah diri kita untuk keluar daripada kemelut ini. Jangan biarkan diri kita menderita kerana kenangan lalu. Buktikan padanya kita mampu hidup lebih baik tanpanya. Terimalah kenyataan dan percayalah luka itu akan pulih seiring waktu.
“Allah has already written the names of your spouses for you. What you need to work on is your relationship with Allah swt. HE will send her/him to you when you’re ready. It is only a matter of time”.

Kesimpulan

Hidup ini adalah satu perjalanan yang harus kita lalui dengan sungguh-sungguh.
Maka, tidak ada gunanya kita berlarut larut dalam duka. Duka yang bertahun hanya akan membuat kita buta akan banyak kebahagiaan yang diberikan Allah pada kita.
Mungkin Allah ingin mengajarkan nilai syukur, lalu ditimpakan kesusahan dan kesedihan. Mungkin Allah ingin mendidik hati kita dengan sabar, lalu Dia berikan ujian. Mungkin Allah ingin melatih rasa rendah diri lalu diberikan kegagalan.
Mungkin Allah ingin menguji  nilai cinta kita kepadaNya, lantas Dia memutuskan kita dengan cinta yang lain.
Tidak diberikan sesuatu itu dengan sia-sia.
Tidak dijadikan apa-apa pun tanpa sebab dan ibrah, yang pastinya membuat kita merasa kagum dan bersyukur pada suatu hari nanti :’)
Bagaimana dengan anda wahai sahabat? Sudah yakin mampu mengubat hati?

Cinta Putih

 hayoooo,,  siapa yang sekarang lagi merasakan cinta putih...????

😀
Naizeremo.blogspot.com
Kali ini kita akan cerita tentang arti cinta putih itu apa.  Seperti hal yang penulis rasakan pada saat ini. :-D. Cinta putih yaitu cinta yang tidak perlu dibalas atau dimiliki oleh yang dicintainya,dan kebanyakan dapat menyiksa perasaan seseorang itu. Kenapa begitu? Banyak hal yang membuat seseorang akhirnya memilih cinta putih diantaranya:
  1. Karena dia merasa tidak pantas untuk memiliki cinta orang yang dicintainya.
  2. Karena dia merasa kalah karena mungkin orang yang dicintainya mencintai orang lain dan dia ingin yang dicintainya bahagia walau tak bersamanya.
  3. Karena dia merasa minder dan malu untuk mengungkapkannya dan pada akhirnya dia memilih untuk hanya mencintainya tampa dibalas olehnya.

  4. Karena dia merasa takut jika dia mengungkapkanya dia akan ditolak jadi daripada sakit hati mending dia memendamnya.
Bagi kalian yang merasa seperti salah satu pernyataan diatas jangan lah bersedih atau kecewa, mari sama sama kita tidak berlarut larut dan tidak menyiksa diri yaitu dengan:
  1. Mencoba melupakannya dan coba cari yang lain.
  2. Mencoba memintanya untuk jadi sahabat terdekatnya.
  3. Mencoba memfokuskan ke yang lain seperti mencari aktifitas yang dapat membuatmu fokus dan enjoy agar lupa dengan apa yang dialami sekarang dan masa lalu.
  4. Mencoba untuk tetap berada disampingnya dan mendukungnya selalu agar dia jadi simpati dengan anda.
Cobalah kalian mencoba salah satu saran diatas,insyaallah kalian pasti tidak akan merasakan cinta putih itu lagi yang dapat menyiksa kalian.
Hahai jadi kalian tidak perlu gelisah dengan cinta putih,sebenarnya masih banyak kok caranya gak terbatas itu saja dan itu tergantung dari kemauan kalian sendiri ya.Tetap semangat ya pantang menyerah dan moga sukses
Sekian Posting saya semoga bermanfaat bagi kalian dan jangan lupa LIKE THIS YA…………….

Selasa, 03 Juni 2014

Pengertian dan Perbedaan Ta’aruf dan Pacaran


Dikarenakan banyak sahabat yang bertanya tentang perbedaan taaruf dan pacaran, berikut saya perjelas pembahasannya.. semoga bermanfaat *_^

1. Apakah defenisi dari Ta’aruf ?
http://naizeremo.blogspot.com/2014/06/taaruf.htmlTaaruf adalah kegiatan bersilaturahmi, kalau pada masa ini kita bilang berkenalan bertatap muka, atau main/bertamu ke rumah seseorang dengan tujuan berkenalan dengan penghuninya. Bisa juga dikatakan bahwa tujuan dari berkenalan tersebut adalah untuk mencari jodoh. Taaruf bisa juga dilakukan jika kedua belah pihak keluarga setuju dan tinggal menunggu keputusan anak untuk bersedia atau tidak untuk dilanjutkan ke jenjang khitbah – taaruf dengan mempertemukan yang hendak dijodohkan dengan maksud agar saling mengenal.
Sebagai sarana yang objektif dalam melakukan pengenalan dan pendekatan, taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Taaruf secara syar`i memang diperintahkan oleh Rasulullah SAW bagi pasangan yang ingin nikah. Perbedaan hakiki antara pacaran dengan ta’aruf adalah dari segi tujuan dan manfaat. Jika tujuan pacaran lebih kepada kenikmatan sesaat, zina, dan maksiat. Taaruf jelas sekali tujuannya yaitu untuk mengetahui kriteria calon pasangan.

2. Apakah Perbedaan Pacaran dan Ta’aruf ?
Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli motor second, tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus motor itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan motor itu.
Sedangkan taaruf adalah seperti seorang montir motor yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan taaruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi motor itu sendiri.
3. Ada Suatu Pertanyaan Seperti ini ?
a. Bagaimana hukum berkunjung ke rumah akhwat (wanita) yang hendak dinikahi dengan tujuan untuk saling mengenal karakter dan sifat masing-masing?
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوْجَهُنَّ ..
“Katakan kepada kaum mukminin hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka –hingga firman-Nya- Dan katakan pula kepada kaum mukminat hendaklah mereka menjaga pandangan serta kemaluan mereka .”
Dalam Shahih Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma dia berkata:
سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَظْرِ الْفَجْأَةِ؟ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yg tiba-tiba ? mk beliau bersabda: ‘Palingkan pandanganmu’.”
Adapun suara dan ucapan wanita pada asal bukanlah aurat yg terlarang. Namun tidak boleh bagi seorang wanita bersuara dan berbicara lbh dari tuntutan hajat dan tdk boleh melembutkan suara. Demikian juga dengan isi pembicaraan tidak boleh berupa perkara-perkara yg membangkitkan syahwat dan mengundang fitnah. Karena bila demikian maka suara dan ucapan menjadi aurat dan fitnah yg terlarang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَلاَ تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلاً مَعْرُوْفًا
“Maka janganlah kalian berbicara dgn suara yg lembut sehingga lelaki yg memiliki penyakit dlm kalbu menjadi tergoda dan ucapkanlah perkataan yg ma’ruf / baik .”
Adalah para wanita datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sekitar beliau hadir para shahabat lalu wanita itu berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepentingan dan para shahabat ikut mendengarkan. Tapi mereka tdk berbicara lebih dari tuntutan hajat dan tanpa melembutkan suara.
4. Proses Ta’aruf
Lalu bagaimana proses taaruf yang syar’i sehingga menuju pernikahan yang barokah?
Yang pertama yaitu tidak boleh menunggu, misalnya jarak antara taaruf dengan pernikahan selama satu tahun. Si akhawat diminta menunggu selama satu tahun karena ikhwannya harus bekerja terlebih dahulu atau harus menyelesaikan kuliah dulu. Hal ini jelas mendzolimi akhwat karena harus menunggu, dan juga apa ada jaminan bahwa saat proses menunggu itu tidak ada setan yang mengganggu??
Yang kedua adalah tidak boleh malu-malu, jadi kalau memang sudah siap untuk menikah sebaiknya segera untuk mengajukan diri untuk bertaaruf. Apabila malu-malu maka proses Ta’aruf akan tidak terjadi atau tidak akan lancar dalam prosesnya, nah jadi repot sendiri kita.
Kemudian yang ketiga dapat melalui jalur mana saja. Maksudnya adalah kita bisa meminta bantuan siapa saja untuk mencarikan calon pendamping kita, mulai dari orang tua, murobbi, saudara, kawan atau orang-orang yang dapat kita percaya.
Etika selama bertaaruf yaitu jangan terburu-buru menjatuhkan cinta. Misalnya ketika kita mendapatkan satu biodata calon pasangan tanpa mengenal lebih dalam, tiba-tiba sudah yakin dengan pilihan itu. Alangkah baiknya jika mengenal lebih dalam mulai dari kepribadian, fisik, dan juga latar belakang keluarganya, sehingga nanti tidak seperti membeli kucing dalam karung. Akan tetapi tidak terburu-buru dalam menjatuhkan cita itu juga tidak boleh terlalu lama dan bertele-tele. Sebaiknya menanyakan hal yang penting dan to the point. Hal ini juga untuk menghindari godaan setan yang lebih dahsyat lagi.
Proses taaruf dikatakan selesai jika sudah mendapatan tiga hal yaitu
1. Tentang budaya keluarga,
2. proyeksi masa depan dan
3. visi hidup dari masing masing.
Nah jika ketiga hal ini sudak didapatkan maka proses taaruf selesai, dan berlanjut ke tingkat berikutnya apakan dilanjutkan atau tidak. Jika iya maka segera untuk ditindak lajuti bersama dengan pihak keluarga kedua belah pihak kalau istilah jawanya “rembug tuwo”. Dan ingat pada saat proses menunggu datangnya hari bahagia itu godaan setan akan bertumpuk-tumpuk, akan ada saja yang menggoda kita melalui berbagai macam hal. Jadi untuk menghindari itu perbanyak dzikir mengingat Allah, dan memperbaiki hubungan dengan Allah. Karena dengan itu maka Allah akan senantiasa melindungi hati kita, pikiran kita dan tindakan kita dari hal-hal yang dilarang.
5. Kesimpulan
Dengan demikian jelaslah bahwa pacaran bukanlah alternatif yang ditolerir dalam Islam untuk mencari dan memilih pasangan hidup. Menjadi jelas pula bahwa tidak boleh mengungkapkan perasaan sayang atau cinta kepada calon istri selama belum resmi menjadi istri. Baik ungkapan itu secara langsung atau lewat telepon, ataupun melalui surat. Karena saling mengungkapkan perasaan cinta dan sayang adalah hubungan asmara yang mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah. Demikian pula halnya berkunjung ke rumah calon istri atau wanita yang ingin dilamar dan bergaul dengannya dalam rangka saling mengenal karakter dan sifat masing-masing, karena perbuatan seperti ini juga mengandung makna pacaran yang akan menyeret ke dalam fitnah.
Wallahul musta’an
(Allah-lah tempat meminta pertolongan).
Adapun cara yang ditunjukkan oleh syariat untuk mengenal wanita yang hendak dilamar adalah dengan mencari keterangan tentang yang bersangkutan melalui seseorang yang mengenalnya, baik tentang biografi (riwayat hidup), karakter, sifat, atau hal lainnya yang dibutuhkan untuk diketahui demi maslahat pernikahan. Bisa pula dengan cara meminta keterangan kepada wanita itu sendiri melalui perantaraan seseorang seperti istri teman atau yang lainnya. Dan pihak yang dimintai keterangan berkewajiban untuk menjawab seobyektif mungkin, meskipun harus membuka aib wanita tersebut karena ini bukan termasuk dalam kategori ghibah yang tercela. Hal ini termasuk dari enam perkara yang dikecualikan dari ghibah, meskipun menyebutkan aib seseorang. Demikian pula sebaliknya dengan pihak wanita yang berkepentingan untuk mengenal lelaki yang berhasrat untuk meminangnya, dapat menempuh cara yang sama.
Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Fathimah bintu Qais ketika dilamar oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Jahm, lalu dia minta nasehat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam maka beliau bersabda:
“Adapun Abu Jahm, maka dia adalah lelaki yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya . Adapun Mu’awiyah, dia adalah lelaki miskin yang tidak memiliki harta. Menikahlah dengan Usamah bin Zaid.” (HR. Muslim)
Para ulama juga menyatakan bolehnya berbicara secara langsung dengan calon istri yang dilamar sesuai dengan tuntunan hajat dan maslahat. Akan tetapi tentunya tanpa khalwat dan dari balik hijab.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti’ (130-129/5 cetakan Darul Atsar) berkata: “Bolehnya berbicara dengan calon istri yang dilamar wajib dibatasi dengan syarat tidak membangkitkan syahwat atau tanpa disertai dengan menikmati percakapan tersebut. Jika hal itu terjadi maka hukumnya haram, karena setiap orang wajib menghindar dan menjauh dari fitnah.”
Perkara ini diistilahkan dengan ta’aruf. Adapun terkait dengan hal-hal yang lebih spesifik yaitu organ tubuh, maka cara yang diajarkan adalah dengan melakukan nazhor, yaitu melihat wanita yang hendak dilamar. Nazhor memiliki aturan-aturan dan persyaratan-persyaratan yang membutuhkan pembahasan khusus .

Ta'aruf

http://naizeremo.blogspot.com/2014/06/kenapa-harus-nikah.html




PACARAN,,?????
http://naizeremo.blogspot.com/2014/06/kenapa-harus-nikah.html
1. mendekati zina, zina itu luas, buka karena melakukan hub badan saja, pandangan dgn nafsu juga zina,menyentuh dngan syahwat juga zina. berbicara dengan ada nafsyu syahwat juga zina.dll.
2. buang waktu, waktu yang seharusnya bisa buat belajar agama atau lainnya,habis karena sesuatu yang sia-sia yakni pacaran. dan pacaran ini benar-benar menyia-nyiakan masa muda. bahkan banyak yang hancur masa mudanya karena pacaran ini, karena itu dia tadi,merasa hebat bisa tertahan goda'an syaitan. ada yg hamil diluar nikah, ada yg melarikan diri dari orang tua katanya karena tidak direstui, ada juga yg berani melawan orangtua,katanya Demi cintaku. benar-benar konyol.
3. banyak kemungkinan berbohongnya, berjanjinya ini dan itu, dll..

Apa ada jaminan kita tak tergoda syaitan? jawab: sungguh tak ada jaminan sama sekali. bila antum merasa menjamin tak tergoda,betapa hebatnya anda, sahabat Nabi saja minya berlindung pada Allah dari godaan syaitan. apalagi kita ini. tak ada apa-apanya, malah merasa hebatnya mau mendekati zina. dekat dengan derajat para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja tidak sama sekali. antara langit dan bumi bahkan lebih jauh lagi.


Kalau kita beralasan, "LALU BAGAIMANA SOLUSINYA AGAR DAPAT PASANGAN,KAN HARUS DI USAHAKAN", jawab: memang betul di usahakan, karena usaha dulu baru tawakkal, tapi bukan berarti harus dengan cara yang salah dengan meniru-niru satu kaum.dalam hal ini PACARAN bukanlah dari islam. dengan jalan ta'aruf itu lebih baik.

yang ironi, ketika mereka berpacaran, kami tanya "pacaran ya" oh tidak, kami ta'aruf. ....$#@&. kami bingung, apa ini yang mereka maksud ta'aruf dalam islam? bebas jalan berdua, pegang tangan sana-sini, di telepon rayu-rayuan????

mari kita lihat perbedaan pacaran dan ta'aruf.

Pacaran : adalah budaya orang orang jahil yang tanpa melalu tertib tetap yang cenderung menghalalkan segala cara.
Contoh. Boleh jalan berdua,boleh berzina,boleh kapanpun bermaksiat,boleh sembunyi sembunyi dari orang tua,bebas berbohong,bebas berangan angan,bebas berandai andai. tak ada aturan yang mengikat.

Ta'aruf: perkenalan laki laki kepada wanita adalah yang dibolehkan dalam islam,dengan syarat dan tata cara tertentu dengan tertib yang tetap.
Contoh: harus diketahui wali perempuan,tidak boleh berbohong,niat harus benar,tidak boleh jalan berdua,tidak boleh pegangan tangan apalagi berzina,melihat hanya boleh wajah dan telapak tangan.

Jadi pacaran dalam islam jelas tidak ada. Istilah pacaran tidak ada dalam islam.
Kita sama sama mengingatkan untuk kebaikan. Untuk mendapatkan kebaikan dan kemuliaan dunia akherat harus dengan cara yang baik dan mulia juga.


Dan janganlah kamu dekati zina. Sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan jalan yang buruk (Al-Isra’:32).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:"Ada tiga jenis orang yg diharamkan Allah masuk surga,yaitu pemabuk berat,pendurhaka terhadap kedua orang tua,dan orang yg merelakan kejahatan berlaku dalam keluarganya (yakni,merelakan isteri atau anak perempuannya berbuat serong atau zina)"(HR.Nasa'i,Ahmad)*Apakah antum merelakan anak antum pacaran, itu sama saja antum merelakan anak antum untuk mendekati zina, lalu dimana tanggung jawab sebagai orangtua, apakah itu namanya orangtua yang baik? dan membiarkannya berjalan berdua dgn bukan mahramnya? JANGAN DEKATI ZINA

bila semua peringatan yang baik sudah tak mau diterima oleh hati kita, mari berdo'a kepada Allah, semoga Allah melunakkan hati kita yang keras,yang tak mau menerima kebaikan. banyak istigfar.

jangan dekati zina ya kakak, lebih baik kayak aku, belajar dan berusaha jadi anak sholehah, dan kakak bisa juga berusaha jadi sholeh dan sholehah. semoga Allah meridhai.





..????

Minggu, 01 Juni 2014

mirna picture

http://naizeremo.blogspot.com/2014/03/ciri-ciri-wanita-solehah-menurut-al.html
Add caption

Kriteria Memilih Pasangan Hidup Menurut Islam


http://naizeremo.blogspot.com/2014/06/emo-picture.html
Setelah kita mengetahui tentang tujuan menikah maka Islam juga mengajarkan kepada umatnya untuk berhati-hati dalam memilih pasangan hidup karena hidup berumah tangga tidak hanya untuk satu atau dua tahun saja, akan tetapi diniatkan untuk selama-lamanya sampai akhir hayat kita.

Muslim atau Muslimah dalam memilih calon istri atau suami tidaklah mudah tetapi membutuhkan waktu. Karena kriteria memilih harus sesuai dengan syariat Islam. Orang yang hendak menikah, hendaklah memilih pendamping hidupnya dengan cermat, hal ini dikarenakan apabila seorang Muslim atau Muslimah sudah menjatuhkan pilihan kepada pasangannya yang berarti akan menjadi bagian dalam hidupnya. Wanita yang akan menjadi istri atau ratu dalam rumah tangga dan menjadi ibu atau pendidik bagi anak-anaknya demikian pula pria menjadi suami atau pemimpin rumah tangganya dan bertanggung jawab dalam menghidupi (memberi nafkah) bagi anak istrinya. Maka dari itu, janganlah sampai menyesal terhadap pasangan hidup pilihan kita setelah berumah tangga kelak.

Lalu bagaimanakah supaya kita selamat dalam memilih pasangan hidup untuk pendamping kita selama-lamanya? Apakah kriteria-kriteria yang disyariatkan oleh Islam dalam memilih calon istri atau suami?

Kriteria Memilih Calon Isteri
Dalam memilih calon istri, Islam telah memberikan beberapa petunjuk di antaranya :

Hendaknya calon istri memiliki dasar pendidikan agama dan berakhlak baik karena wanita yang mengerti agama akan mengetahui tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :


Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda : “Perempuan itu dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya, lalu pilihlah perempuan yang beragama niscaya kamu bahagia.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Dalam hadits di atas dapat kita lihat, bagaimana beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menekankan pada sisi agamanya dalam memilih istri dibanding dengan harta, keturunan, bahkan kecantikan sekalipun.


Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :


“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu … .” (QS. Al Baqarah : 221)

Sehubungan dengan kriteria memilih calon istri berdasarkan akhlaknya, Allah berfirman :


“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) … .” (QS. An Nur : 26)

Seorang wanita yang memiliki ilmu agama tentulah akan berusaha dengan ilmu tersebut agar menjadi wanita yang shalihah dan taat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wanita yang shalihah akan dipelihara oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana firman-Nya :


“Maka wanita-wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara dirinya, oleh karena itu Allah memelihara mereka.” (QS. An Nisa’ : 34)

Sedang wanita shalihah bagi seorang laki-laki adalah sebaik-baik perhiasan dunia.


“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Hendaklah calon istri itu penyayang dan banyak anak.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah bersabda :


Dari Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda : ” … kawinilah perempuan penyayang dan banyak anak … .” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Al Waduud berarti yang penyayang atau dapat juga berarti penuh kecintaan, dengan dia mempunyai banyak sifat kebaikan, sehingga membuat laki-laki berkeinginan untuk menikahinya.


Sedang Al Mar’atul Waluud adalah perempuan yang banyak melahirkan anak. Dalam memilih wanita yang banyak melahirkan anak ada dua hal yang perlu diketahui :


Kesehatan fisik dan penyakit-penyakit yang menghalangi dari kehamilan. Untuk mengetahui hal itu dapat meminta bantuan kepada para spesialis. Oleh karena itu seorang wanita yang mempunyai kesehatan yang baik dan fisik yang kuat biasanya mampu melahirkan banyak anak, disamping dapat memikul beban rumah tangga juga dapat menunaikan kewajiban mendidik anak serta menjalankan tugas sebagai istri secara sempurna.


Melihat keadaan ibunya dan saudara-saudara perempuan yang telah menikah sekiranya mereka itu termasuk wanita-wanita yang banyak melahirkan anak maka biasanya wanita itu pun akan seperti itu.


Hendaknya memilih calon istri yang masih gadis terutama bagi pemuda yang belum pernah nikah.


Hal ini dimaksudkan untuk mencapai hikmah secara sempurna dan manfaat yang agung, di antara manfaat tersebut adalah memelihara keluarga dari hal-hal yang akan menyusahkan kehidupannya, menjerumuskan ke dalam berbagai perselisihan, dan menyebarkan polusi kesulitan dan permusuhan. Pada waktu yang sama akan mengeratkan tali cinta kasih suami istri. Sebab gadis itu akan memberikan sepenuh kehalusan dan kelembutannya kepada lelaki yang pertama kali melindungi, menemui, dan mengenalinya. Lain halnya dengan janda, kadangkala dari suami yang kedua ia tidak mendapatkan kelembutan hati yang sesungguhnya karena adanya perbedaan yang besar antara akhlak suami yang pertama dan suami yang kedua. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjelaskan sebagian hikmah menikahi seorang gadis :